Minggu, 10 April 2011

KELUARGA MENJADI AGEN PEMBEBASAN HAK ASASI MANUSIA


KELUARGA MENJADI AGEN PEMBEBASAN 

HAK ASASI MANUSIA
 

Keluarga merupakan sumber kekuatan suatu negara. Bangsa, Negara dan Gereja akan sehat dan kuat bila keluarga-keluarga juga sehat dan kuat. Keluarga merupakan hal atau agen terpenting bagi setiap kehidupan manusia, hal ini sudah dirancang Allah sejak awal penciptaan dunia. Suami, istri dan semua anggota keluarga mesti sungguh-sungguh menyadari akan arti penting keluarga serta mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, untuk itu hendaklah keluarga harus mengetahui bagaimana sebenarnya rancangan Allah bagi setiap keluarga.
Menurut rencana ilahi, ada tiga pengertian hal yang terpenting dalam keluarga diantaranya adalah 1)Tempat untuk mengabdi/menyalurkan apa yang Tuhan taruh dalam hidup kita, 2) Keluarga adalah suatu komunitas besar dan 3) Keluarga bersifat jangka panjang. Dalam hal ini, Tuhan meminta kepada kedua pasangan supaya untuk saling mengasihi satu sama lain, mencipatakan suasana damai, tenteram, dan penuh kehangatan dalam kehidupan keluarga.
Jika melihat rencana Allah terhadap kehidupan keluarga, sekilas dapat dimengerti atau direfleksikan bahwa tanggak atau dasar dari kehidupan atau segala-galanya dalam dunia ini sumbernya dari keluarga. Sebuah pertanyaan bagi kita semuan, dengan melihat realitas yang ada didalam kehidupan keluarga pada saat ini? Sudahkah hal yang demikian dialami oleh keluarga, terutama keluarga sebagai agen pembebasan?
Pada masa sekarang, pola kehidupan keluarga bukan hanya terbentuk oleg kehidupan yang telah menjadi tradisi, dan itu kuno. Pada masa sekarang kehidupan dan pola gerak dan gerik keluarga sudah terbentuk dengan yang namanya budaya globalisasi. Hampir 100% kehidupan keluarga dibentuk dengan budaya globalisasi yang semakin hari semakin menyerang kehidupan keluarga. Hal yang sangat nampak adalah dalam siaran yang ada di televisi, hampir semua iklan yang ada memberikan kemudahan dalam keluarga bergerak, mulai dari peralatan rumah tangga sampai pada bagaimana keluarga menciptakan situasi bahagia dalam keluarga.
Jika melihat hal yang demikian, mengapa masih ada terjadi KDRT, perceraian dan perselingkuhan yang terjadi dalam kehidupan keluarga? Ternyata, jika melihat hal yang demikian, sudahkah keluarga menjadari dirinya sebagai agen pembaruaan atau agen yang menumbuhkan perdamaian di dunia ini seturut rencana Ilahi?
Keluarga merupakan sumber mata air yang mengalirkan kehidupan, kebahagiaan, kedamian. Sebagai agen, hendaklah keluarga harus menjadi dasar atau pondasi yang bisa mencerminkan kedamaian, kebahagiaan dalam kehidupan mereka. Hal tersebut akan terjadi jika kedua pasangan suami dan isteri beserta anggota keluarga mau menghargai hak asasi masing-masing.
Menumbuhkan dan mengembangkan pola saling mengasihi serta mencintai dalam kehidupan keluarga serta menghormati hak asasi masing-masing anggota keluarga merupakan langkah awal peran keluarga yang menjadi agen yang mendatangkan pembenasan bagi jiwa-jiwa yang ada di dalamnya. Keluarga tersebut merupakan model bagi keluarga lain. Dalam kehidupannya, keluarga hendaknya dapat menjadi contoh bagi keluarga-keluarga lain.
Sebagai penentu keselamatan dunia dan Negara, dalam Firman-Nya Maleakhi 4:6, Tuhan berkata "Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah". Adanya perdamaian dalam keluarga-keluarga merupakan salah satu indikator bagi Allah untuk tidak menghukum suatu daerah (kota dan atau dunia).
Keluarga hendaklah kamu menjadi dirimu sendiri, demikianlah hal yang dikatakan oleh Paus Yohanes Paulus II kepad keluarga. Kerinduan paus Yohanes Paulus II akan adanya kebahagiaan dalam hidup bekerluarga ama mendalam. Paus memandang bahwa keluarga bukan hanya menjadi agen akan tetapi menjadi inti atau sel yang pertaman, hal ini bukan hanya berkaitan dengan munculnya nafas kehidupan yang baru, akan tetapi dari keluarga itulah bentuk-bentuk pola mengisi kehidupan ini muncul, jika keluarga tidak mencerminkan adanya kebahgiaan, kedamiaan atau pembenasan bagainama Negara, bangsa dan Gereja akan menjadi bangsa, Negara dan Gereja yang membawa kedamian atau pembebasan, karena Negara, bangsa dan Gereja ada berasal dari kehidupan yang telah lahir dari keluarga.
Keluarga dipanggil oleh Tuhan untuk mendatangkan segala bentuk kehidupan di dunia ini bukan hanya melahirkan nafas kehidupan saja akan tetapi mengisi kehidupan ini dengan sesuatu yang penuh makna. Dalam hal ini, apa yang seharusnya keluarga lakukan, supaya suasan yang diharapkan oleh Bangsa, Negara dan Gereja terutama Tuhan itu dapat diwujud nyatakan dalam kehidupan sehari-hari. Ada beberpa hal yang saya anggap penting untuk keluarga ketahui, supaya dalam pendangan Allah bahwa keluarga sebagai agen, inti atau sel dari segala-galanya, diantaranya,
1.      Keluarga sadarlah, karena dengan kesadaran maka keluarga akan mengerti posisinya, tugas, fungsi dan tujuan dari terbinanya kehidupan keluarga.
2.      Sebagai warga Negara, dan Bangsa Indonesia ini, hendaklah sikap patriot, nasiona, dan demokrasi harus ada dalam tata kehidupan keluarga. Terlibat dalam pengembangan masyarakat RT, RW, Kecematan dan bangsa Indonesia ini. Tumbuhkan semangat para pejuang dalam memerangi kekerasan dalam rumah tangga, dan selalu semangat dalam mendeklarasikan perdamaian dan kebahagiaan dalam keluarga.
3.      Sebagai warga Gereja, hendaklah dalam kehidupannya nilai-nilai injil Iman, Harapan dan kasih harus mewarnai kehidupan keluarga, baik dalam pola pendidikan atau menjalian relasi serta komunikasi antara anggota keluarga. Menimba, mendalami dan merefleksikan sabda Tuhan dalam injil-Nya merupakan hal yang harus keluarga lakukan, karena Allah menyapa, mendidik serta memanggil keluarga untuk menjadi cermin kedamaian dan kebahagiaan dalam segala bentuk kehidupan di dunia ini.
Keluarga merupalkan lilin yang bernyala ditengah kegelapan yang menerangi segala sudut-sudut ruangan sehingga ruangan yang gelap menjadi terang, keluarga sebagai garam yang memberikan rasa bagi kehidupan ini, sebagai ragi hendaklah keluarga selalu mengalirkan kehangatan cinta kasih, iman dan pengaharapan bagi kehidupan dunia, bangsa dan Gereja.  Jika hal yang demikian telah keluarga sadari, dibina secara terus menerus dalam kehidupannya serta menghidupinya dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan sebagai umat Allah maka air kedamaian, kebahagaian dan sukacita akan mewarnai kehidupan ini, dengan demikian maka pantaslah keluarga dapat dikatakan sebagai agen dari munculnya pembebasan dalam kehidupan ini.

Ditulis oleh Silvester Nyawai
Mahasiswa STKIP Wadya Yuwana Madiun
Jln. Soegijopranoto (d/h.Jln. Mayjend. Panjaitan), Tromol Pos 13.
Madiun 63102

  Diterbitkan dimajalah Kana Malang Tahun 2011

Kamis, 07 April 2011

MENGENAL PENGARANG INJIL MATIUS


MENGENAL PENGARANG 

INJIL MATIUS



Siapakah pengaran Injil Matius itu, sehingga ia menjadi salah satu pengarang Injil yang menjadi dasar dari Iman kita? Jika pertanyaan ini dilontarkan kepada kita sebagai orang katolik, apa yang seharusnya kita jawab? Di sini saya akan memaparkan tentang, apa yang telah saya dapatkan dari perkuliahan sebagai calon pewarta sabda.
“Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia”
Matius  9:9
Dari perikop injil ini sangat jelas sekali, apa yang Yesus ingikan dari kita sebagai anak-anak-Nya, mengikuti Yesus bukan bearti kita hanya mengikuti Dia dengan mengagungkan nama-Nya, akan tetapi hendaklah kita juga menjadi pewarta dan pelayan-Nya. Dalam mengikuti dan mewartakan sabda Yesus, hendaklah kita harus benar-benar mengerti akan apa yang harus kita lakukan, yang amat terpenting adalah siapa itu Yesus, mengapa Ia rela mati untuk kita? Dengan kematiaan-Nya kita harus berbuat apa?
Dari ke empat injil yang kita miliki, salah satunya injil Matius telah menjawab pertanyaan tersebut, Cuma yang menjadi masalah sekarang siapa itu Matius, apakah ia salah satu murid Yesus atau salah satu orang yang mendengarkan pewartaan dari murid-murid Yesus tentang perbuatan Yesus selama Ia berada di dunia ini.
A.     LATAR BELAKAN INJIL MATIUS
Dalam dokumen aslinya, Injil Matius tidak menyebut nama pengarangnya (anonim). Secara tradisional pengarang injil Matius diakui sebagai pemungut cukai yaitu seorang lewi, jika pernyataan tradisional ini benar, sangat jelas sekali bahwa Matius adalah seorang murid Yesus atau saksi mata akan apa yang Yesus buat pada masa Ia berada di dunia ini. Tradisi Gereja mencatat ucapan Papias, uskup dari Hierapolis di Asia Kecil (c. 110 M):  “Matius mengumpulkan ucapan-ucapan dalam dialek Ibrani (Aram) dan setiap orang menerjemahkannya sesuai kemampuan masing-masing.” Karya Papias telah hilang, tetapi banyak dikutip oleh sejarawan Eusebius. Ada kemungkinan Rasul Matius mengumpulkan ucapan-ucapan Yesus dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Aram, lalu orang-orang lain menerjemahkannya “menurut kemampuan masing-masing.” Judul “menurut Matius” ditambahkan sekitar abad kedua. Tradisi Gereja sejak abad kedua dengan suara bulat menerima Matius sebagai pengaran.
Ada beberapa petunjuk yang dapat kita gunakan yaitu intern dari Injil untuk Matius sebagai pengarangnya: 
1)      Mat 9:9, nama Matius menggantikan nama Lewi, pemungut cukai yang dipanggil untuk menjadi murid Yesus (bdk. Mk 2:14; Lk 5:27);
2)      Mat 10:3, nama Matius dalam daftar nama 12 murid diberi keterangan “pemungut cukai”  (bdk Mk 3:18; Lk 6:15).
3)      Injil yang banyak menyebutkan tentang pajak, dan itu lebih cendrung kepada pemungut cukai seorang lewi
4)      Dari daftar ke 12 murid pada injil Matius, ada tertulis ”si pemungut cukai” yang terletak pada urutan ke delapan, lain halnya dengan injil yang lain, nama Matius terletak pada urutan ke 7, ini memberikan petunjuk bahwa seorang penulis ingin menunjukan kerendahan hatinya.
B.     TAHUN PENULISAN
Menurut keterangan yang didapatkan, injil Matius di tulis sebelum tahun 70 M, untuk memperkuat pernyataan ini ada beberapa faktor yang dapat kita gunakan, diantaranya adalah
a)      Mat tidak mengubah pernyataan Mrk 13:14 tentang kejatuhan Yerusalem, sedangkan Luk  meredaksinya sebagai berikut:  “Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat” (Luk 21:20). Andaikata Injil Mat ditulis sesudah 70 M, Mat pasti akan berbuat sama seperti Luk. Mat malah Menambahkan “segera sesudah siksaan itu” (Mat 24:29), yang memberi kesan ia berharap parousia Anak Manusia segera terjadi sesudah kejatuhan Yerusalem. 
b)      Keterangan Mat tentang Bait Allah:  “meninggalkan persembahan di atas mezbah” (5:23-24), keharusan bagi orang benar “membayar bea Bait Allah” (17:24-27), dan “bersumpah demi Bait Suci” (23:16-22). Lebih sulit dipercaya jika anachronisme ini ditambahkan oleh penulis sesudah Bait Allah dihancurkan, daripada mempercayai  bahwa ayat-ayat ini relevan karena Bait Suci masih berdiri ketika Injil Mat ditulis.  Demikian pula penambahan Mat, “berdoalah supaya waktu kamu melarikan diri itu  jangan jatuh pada musim dingin dan jangan pada hari Sabat” (24:20), akan tidak berarti jika kehancuran Yerusalem sudah terjadi.
Dalam hal ini, penulis tahun injil ini hanya kira-kira dan itu juga dilihat berdasarkan situasi yang terjadi pada waktu itu. Jika kita telah memahami tentang tahun penulisan injil Matius ini, pertanyaan lebih lanjut yang diberikan kepada kita, Matius menulis injilnya untuk siapa, apa dasar Matius menulis injilnya ini.
C.     SASARAN PEMBACA
1)      Data intern Injil Mat mendukung hipotesa bahwa pembaca pertamanya adalah orang Kristen asal Yahudi, berdasarkan unsur2 berikut: 
·        Penekanan seluruh Injil pada penggenapan PL, terutama melalui “kutipan penggenapan” yang didahului oleh formula: “supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi”  (1:22-23; 2:15, 17-18; 4:14-16; 8:17; dst). Kutipan penggenapan ini bertujuan untuk menyatakan Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan dalam PL, dan pelayanan-Nya merupakan fajar zaman mesianik;
·        Pentingnya kesetiaan Yesus terhadap Taurat (5:17-19) dan penekanan Yesus pada kebenaran (righteousness); 
·        Mat menghilangkan keterangan2 Mk tentang adat-istiadat Yahudi (15:2, bdk Mk 7:3-4);
·        Tampak jelas pola pemikiran rabinik dalam beberapa percakapan  (mis. 19:3-9 tentang perceraian); 
·        Motif apologetik dari narasi kelahiran Yesus (menyanggah tuduhan orang Yahudi tentang kelahiran Yesus secara tidak sah) dan narasi kebangkitan (eksplisit menyanggah  tuduhan orang Yahudi bahwa tubuh Yesus dicuri; 28:8-15)
2)      Meskipun tampaknya ditujukan khusus kepada orang Kristen Yahudi, namun Mat memiliki sifat universal yang melampaui batas2 sasaran pembaca tertentu. Bisa jadi pembaca pertamanya adalah orang Yahudi Helenistik atau orang Yahudi dalam diaspora, yang tetap akan menimba manfaat dari penjelasan Matius tentang kontinuitas dan diskontinuitas dengan wahyu yang diberikan dalam masa perjanjian (covenant) sebelumnya.  
D.    GENRE DAN TUJUAN PENULISAN
Adanya beberapa penekanan yang unik dan unsur-unsur yang khas Matius menyatakan tujuan penulisan Injil ini dan menentukan apakah genre Injil Matius.
  1. Injil:  Matius adalah pertama-tama sebuah Injil, yaitu suatu catatan atau laporan tentang hidup Yesus, semacam biografi kuno tetapi bukan biografi dalam arti modern. Kini semakin disadari bahwa Injil Matius banyak kemiripannya dengan biografi dalam sastra Yunani-Romawi. Seperti Injil2 lainnya, Matius adalah perluasan             kerygma (proklamasi) tentang penggenapan Kitab Suci yang dibawa oleh Yesus, terutama melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Inilah inti Injil, yakni manifestasi puncak dari tindakan penyelamatan Allah bagi manusia di dalam kematian dan kebangkitan Yesus.
  2. Propaganda misi:  Penekanan yang kuat di dalam seluruh Injil Matius pada penggenapan nubuat PL untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias, telah membuat Injil ini dilihat sebagai sarana atau alat dalam misi penginjilan Gereja kepada orang Yahudi.
  3. Polemik melawan para rabi:  Seringnya Yesus mengritik orang Farisi dengan pedas (terutama Mat 23) menuntun kepada kesimpulan bahwa baik sang penulis Injil maupun pembacanya sedang menghadapi masalah dalam hal pembelaan mereka terhadap tuntutan sinagoge. Perdebatan itu menyangkut pertanyaan, siapakah yang memberikan interpretasi yang benar tentang hukum Taurat. Dalam pandangan ini, Injil Mat telah memanfaatkan berbagai tradisi tentang Yesus dan orang Farisi, dan memakai materi ini dalam pertentangan dengan Yudaisme Farisi di kemudian hari.
  4. Koreksi terhadap Gereja:  Ada pendapat bahwa penulis Matius bertujuan memberi koreksi terhadap komunitas yang sedang menghadapi kesulitan yang serius. Petunjuk tentang hal ini dapat dijumpai  di dalam beberapa teks berikut. Dari penelitiannya tentang Mat 17:22-18:35,  W.G. Thomson menyimpulkan bahwa komunitas Matius mengalami perpecahan yang serius dan  berbagai skandal sering terjadi. Di dalam Mat 13 Kingsbury menemukan indikasi bahwa komunitas Mat sedang bermasalah, bukan saja akibat pertikaian intern tetapi juga karena kemunduran rohani yang tercermin dalam materialisme, sekularisme, dan sikap tidak menghiraukan hukum Taurat. Polemik melawan nabi palsu (7:15-23), menurut Minear dan Trilling, mencerminkan keprihatinan penulis tentang para pemimpin komunitas Mat yang cenderung menjadi nabi palsu atau jatuh dalam kemunafikan; juga mencerminkan keprihatinan terhadap orang-orang “kharismatik” di dalam jemaat yang tidak hidup dalam ketaatan kepada hukum Taurat. Penulis Mat mengakui adanya nubuat dan penyembuhan ilahi di dalam Gereja, namun ia tidak bersikap toleran terhadap orang yang melayani dengan manifestasi karunia2 rohani tetapi tidak menunjukkan ketaatan kepada hukum Taurat. 
  5. Berbagai pendapat tentang genre ini menunjukkan bahwa penulis Mat mungkin saja mempunyai beberapa tujuan. Paling tidak hal ini sangat jelas: Injil Mat adalah sebuah kitab untuk komunitas, yang ditulis terutama untuk memenuhi berbagai kebutuhan jemaat2 yang dilayani oleh penulis, dalam masa interim antara peristiwa2 sejarah yang terjadi waktu itu dengan kedatangan Kristus yang kedua. Penulis bertujuan menolong pembacanya yang asal Yahudi itu untuk memahami iman Kristen sebagai kontinuitas dari iman bapa-bapa leluhur Israel, sebagai penggenapan Kitab Suci, dan sebagai awal dari realisasi pengharapan Israel. Penulis juga bertujuan menolong Gereja dalam pengajarannya, dan selain itu juga untuk mengajar serta membangun umat Kristen, baik dalam generasinya sendiri maupun generasi  mendatang. 
E.     KERANGKA STRUKTUR INJIL MATIUS
Pada dasarnya, para ahli kitab suci membagi injil Matius ke dalam struktur dengan berdasarkan tempat pewartaan Yesus semasa hidup-Nya. Struktur injil Matius sebagai berikut:
1)      Mat 1-4:11 pendahuluan
2)      Mat 4:12-15 Karya Yesus Di Galelia
3)      Mat 15 Karya Yesus di Utara
4)      Mat 16:12-28 Perjalanan ke Yerusalem
Kerangka utama pada injil matius yang didasarkan pada 5 kotbah Yesus:
5-7
di bukit
10
pada para rasul
13
Tentang perumpamaan
18
Tentang menjadi anggota gereja
24-25
Akhir zaman

Selingan
Yang mau di perlihatkan oleh Matius dalam injilnya ini adalah penginjil Matius ingin melihat Yesus sebagai Musa baru. Jika kita melihat Mat 5-7, Yesus di dalamnya berkotbah di bukit, hal tersebut juga dilakukan oleh Nabi Musa yang pada waktu itu berkotbah di bukit sinai, maka dari pada itu kelima kotbah Yesus di atas bukut itulah yang menjadi pndasi injil Matius.
F.      TEOLOGI INJIL MATIUS
Jika kita telah mengenal atau mengetahui latar belakang, tahun penulisan, sasaran serta struktur injil Matius, hal yang amat terpenting adalah pokok-pokok teologi injil Matius, di dalamnya penginjil Matius ingin mengatakan kepada kita siapa Yesus itu sebenarnya dan apa yang Ia lakukan semasa hidupnya.
Ada beberapa petunjuk tentang siapa itu dalam injil Matius, dintaranya
a)      Yesus adalah Mesias: Yesus adalah Mesias (yang diurapi) keturunan Abraham, Anak Daud, Dia adalah Juru Selamat yang dijanjikan Allah. Yusuf harus menamai Dia; Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (Matius 1:21) Dan melalui Dialah, Allah menggenapi apa yang telah dijanjikan-Nya di dalam Perjanjian Lama kepada umat-Nya. Orang Yahudi menantikan Mesias sebagai seorang raja yang memiliki kekuatan militer yang besar untuk membebaskan bangsanya dari penindasan bangsa lain. Oleh karena itu Orang Yahudi menolak Yesus sebagai Mesias, sebab Yesus sang Mesias tidak mengandalkan kekuatan militer, melainkan mengandalkan kekuatan Kasih. untuk memenangkan peperangan rohani yaitu menang atas maut. Dengan Demikian umat manusia diberi pengharapan bahwa manusia tidak harus binasa dalam dosa, melainkan barangsiapa yang percaya kepada Yesus Kristus Sang Mesias itu, ia akan beroleh Keselamatan. Perintah-Nya adalah: Beritakan injil ( 9:35 , 11:1, 24:14, 26:13).
b)      Yesus adalah Guru Agung: Salah satu hal yang dititikberatkan oleh Matius ialah bahwa Yesus adalah Guru Agung, Yesus mempunyai wibawa untuk menjelaskan arti dari Hukum Allah. Kebanyakan dari ajaran-ajaran Yesus itu dikelompokkan menurut pokok-pokoknya.Ada lima kelompok :
1)      Khotbah di Bukit yang menyangkut sikap, kewajiban, hak-hak, dan tujuan hidup para anggota umat Allah (5-7);
2)      Ajaran kepada kedua belas Murid Yesus untuk melaksanakan tugas (10)
3)      Ajaran melalui perumpamaan-perumpamaan tentang keadaan Allah memerintah sebagai Raja (menggunakan istilah Kerajaan Allah/Kerajaan Sorga) (13)
4)      Ajaran mengenai makna menjadi pengikut Yesus (18)
5)      Ajaran tentang akhir zaman dan tentang kedatangan Anak Manusia (24-25).
Orang percaya diperlengkapi agar dapat menjadi murid Tuhan sejati. Yaitu murid yang melakukan Firman di dalam hidupnya. Perintah-Nya adalah "Jadikanlah semua bangsa Murid-KU"...dan Ajar mereka untuk melakukan setiap firman ... (28:19-20)
Dalam injil Matius, Yesus sering mengatakan Bapa sebagai Bapa-Ku, Bapa itulah yang dilukiskan oleh Yesus sebgai Bapa yang baik hati, sehingga Bapa itu tahu memberi yang baik kepada anak-anak-Nya serta sangat memperhatikan kebutuhan anak-anak-Nya. Melihat hal yang demikian, maka inti dari injil Matius adalah pewartaan tentang Yesus sebagai penggenapan dari Kitab suci perjanjian lama, dan itu dapat kita lihat dari kata-kata atau rumusan “supaya genapah….” Dan bukan hanya itu saja, dalam injil Matius kita juga dapat melihat silsilah tentang Yesus begitu diceritakan amat detil sekali, maka oleh para ahli injil Matius diletakan pada bagian pertama dalam keempat injil yang kita miliki.

Ditulis oleh Silvester Nyawai
Mahasiswa STKIP Wadya Yuwana Madiun
Jln. Soegijopranoto (d/h.Jln. Mayjend. Panjaitan), Tromol Pos 13.
Madiun 63102


KELUARGA DITENGAH PERUBAHAN

KELUARGA DITENGAH PERUBAHAN

  

By: Silvester Nywai

 
Pada kenyataannya, banyak tantangan yang dihadapi oleh keluarga masa kini. Kehidupan keluarga masa kini bukan seperti kehidupan keluarga masa lalu, masa nenek moyang dulu. Dalam berbagai hal, keluarga masa kini adalah menuju pada perubahan hidup yang semakin maju. Zaman telah menempa kehidupan keluarga pada masa kini. Arus globalisasi dan perkembangan ilmu pendidikan sangat mempengaruhi perkembangan keluarga yang semakin modern.
Perubahan kehidupan keluarga pada masa kini sangat tampak sekali dari bentuk kehidupan keluarga yang semakin terbuka akan segala hal yang ada dalam keluarga. Jika pada zaman dulu, permasalahan dalam keluarga jarang bermunculan keluar, dan semuannya diselesaikan dengan secara kekeluarga, artinya lingkup keluarga baik besar maupun kecil. Pada zaman sekarang permasalahan juga diselesaikan dengan cara kekeluargaan, akan tetapi banyak perbedaan yang terjadi.
Banyaknya media masa yang dapat digunakan keluarga dalam menemukan atau menyelesaikan permasalahan dalam keluarga. Seperti yang sangat tampak sekali adalah dengan melalui media masa TV atau majalah yang ada. Acara khusus yang dipersiapkan untuk keluarga, dan ada kolom khusus dalam Koran atau majalah bagi keluarga yang berkenan berkonsultasi. Dapat dikatakan, permasalahn  keluarga pada zaman sekarang bukan hanya terbatas pada penyelesaiannya dalam lingkup keluarga saya akan tetapi publik juga ikut menyelesaikan permasalahan dalam keluarga tersebut.
Banyaknya buku, Koran, majalah yang hampir membanjiri di seluruh tanah Indonesia tercinta diantaranya ada beberapa majalah atau Koran yang menghususkan dirinya untuk membahas tentang seputar kehidupan keluarga. Dalam situasi yang demikian, ada banyak keluarga yang merindukan akan adanya kedamaian, kesejahraan dan kebahagiaan dalam kehidupan keluarga tersebut. Seiring dengan perkembangan yang ada, ada banyak juga para pemikir yang mau atau mulai mendefinisikan atau mencari bagaimana membentuk keluarga yang damai dalam menuju kepada kehidupan keluarga yang bahagian.
Dari pola gaya hidup, keluarga pada zaman sekarang sudah meninggalkan model keluarga yang bentuknya tradisional, keluarga pada masa sekarang lebih berorentasi pada kehidupan yang modern, contohnya adalah pada saat ini semakin banyak ditemukan bahwa jumlah keluarga tidak sebanyak zaman dahulu. Jumlah anggota keluarga saat ini semakin sedirkit. Dengan jumlah anggota keluarga yang sedikit, perhatian dan pendampingan terhadap masing-masing anak dapat semakin maksimal. Pernikahan tidak dipandang hanya sebagai sebuah ikatan atau kesepakatan dua orang yang saling mencintai saja, karena ia tidak hanya bersifat personal, namun juga berdampak sosial dan dipandang sebagai sebuah lembaga institusi tersendiri. Teknologi dan perlakuan terhadap sex telah berubah. Sex dipandang memiliki dua tujuan, yaitu kebahagiaan dan pengabdian terhadap kehidupan manusia. Berkat teknologi, manusia dapat memisahkan fungsi hubungan suami istri, di mana hubungan suami istri tidak selalu untuk mendapatkan keturunan. Dengan majunya teknologi, berbagai isu muncul, mulai dari aborsi, alat kontrasepsi, bayi tabung, kloning, kultur jaringan dan banyak lagi.
Banyaknya pola atau gaya yang baru dari cara hidup keluarga pada masa sekarang, dampak positif dan negatif berkembang atau muncul bersamaan. Pasangan yang baru menikah lebih memilih untuk membangun atau membina rumah tangga sendiri, banyak orangtua tidak ikut terlibat dalam menentukan pasangan hidup pada anak-anak mereka tidak seperti zamannya Siti Nurbaya. Hal yang demikian adalah beberapa rangkaian dari perkembangan gaya hidup keluarga pada masa kini.
Dari pernyataan yang ada, apa hubungannya keluarga ditengga perubahan dan keluarga yang membangun diri? Sebuah pertanyaan reflektif yang amat mendalam bagi keluarga. Sebenarnya mau dibawa kemana kehidupan keluarga pada masa sekarang?
Sebagai unit, atau lembaga atau Gereja mini keluarga dipandang sebagai inti dari segala kehidupan, inti dari segala pembaruaan, perubahan atau inti dari segala sesuatu yang ada di dunia ini. Sisi neraka dan surga ada dalam keluarga menjalani kehidupannya. Sisi neraka jika keluarga diselimuti dengan barbagai macam masalah yang tak kunjung berhenti, dan sisi surganya adalah jika keuarga di dalamnya diselimuti dengan hangatnya hubungan kebahagiaan dan kedamaian. Dari dua sisi inilah keluarga terus menerus merenungkan atau merefleksikan dengan serangkaian peristiwa atau pengalaman hidup yang mereka alami.
Dapat dikatakan bahwa, bentuk gaya atau cara hidup keluarga pada masa kini adalah hasil perjalanan kehidupan keluarga pada masa lalu. Jika dulu, sang istri hanya bekerja di rumah dan mengurusi rumah dan anak, pada masa sekarang hal yang demikian hampir tidak ada lagi.  Karil hidup lebih diutamakan, dan penghargaan terhadap hak kaum perempuan sudah sederajat dengan kaum laki-laki. Bentuk gaya hidup inilah yang dinamakan dengan perubahan yang amat nyata dalam kehidupan keluarga.
Dengan mengamati dari beberapa hal atau peristiwa dapat dikatakan bahwa keluarga pada masa kini adalah keluarga yang terus menerus untuk membangun diri kepada kehidupan keluarga yang bahagia. Pencariaanya yang terus menerus mulai dari kebutuhan ekonomi, dalam kehididupan social dan dari segi rohani semuannya dijelajahi keluarga untuk menemukan makna hidup keluarga yang bahagia dan damai. Keluarga pada masa sekarang semakin terbuka akan ilmu-ilmu yang berbicara tentang seputar kehidupan keluarga dalam rangngka membina diri, dan itu semua adalah demi terciptanya kerajaan Surga di dalam kehidupan keluarga.
Perkembangan zaman membawa kehidupan keluarga pada perubahan yang luar biasa, dalam hal ini keluarga dapat dikatakan sebagai agen permbaruan yang memiliki potensi yang pengaruh bagi terciptanya kerajaan surga di dunia ini. Adapun hal-hal yang harus di perhatikan adalah
  1.  Keluarga jadilah diri sendiri, yang tidak terpaku akan persaiangan dalam berbagai hal, serta jadikanlah diri sebagai garam dan terang dunia yang memiliki fungsi sebagai terpancarnya cahaya yang abadi dari kehidupan ini 
  2. Keluarga jadilah dirimu seperti burung merpati yang mempasona keindahan, kecantikan, ketulusan hati dan terbanglah tinggi-tinggi menjangkaui cakrawala, dengan demikian kehidupan akan menjadi bebas. 
  3. Binalah diri dalam kelimpahan kasih dan cinta, karena itulah yang dapat menimbulkan kehangatan dalam keluarga yang mendatangkan kedamaian dan kebahagiaan yang melimpah.
  4. Jadilah seperti air yang bening, bersih dan tidak tercela dengan demikian maka setiap orang yang menikmatinya akan merasa dilegakan dengan apa yang mereka rasakan. 
  5. Jadilah harta yang berharga yang tidak ternilai harganya, serta mutiara yang menawarkan kecantikan, serta bunga yang memberikan keelokan bagi orang yang memandangnya.
Dari pernyataan-pernyataan tersebut, ada hal yang amat penting dalam keluarga membina kehidupannya. Pola kehidupan keluarga hendaklah benar-benar di dasarkan pada cinta dan kasih yang dapatkan dari hubungan mesra dengan sang Pencipta, karena dengan melali DIA makan keluarga tersebut dapat membangun diri dalam kelimpahan baik jasmani maupun rohani. Jika hal tersebut benar-benar hidup dalam kehidupan keluarga, maka dalam menghadapai perkembangan dalam bentuk apapun maka keluarga akan tetap teguh dalam menghadapainya. Dan tidak ada kata perubahan atau pembangunan dalam keluarga jika dirinya tidak bisa merubahdiri sendiri dalam menuju kepada kehidupan yang bahagia.

Kamis, 31 Maret 2011

EKARISTI SEBAGAI PUSAT HIDUP UMAT BERIMAN KATOLIK


BAHAN KATEKESE UMAT

EKARISTI SEBAGAI PUSAT HIDUP UMAT BERIMAN
 (METODE ANALISA SOSIAL)
“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku,
ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia”
Yoh  6:56

Oleh: Silvester Nyawai



KATA PENGANTAR
Gereja hidup dari Ekaristi. Kebenaran ini mengungkapkan bukan hanya pengalaman iman sehari-hari, tetapi juga menegaskan hakikat misteri Gereja. Dengan berbagai cara Gereja mengalami dengan sukacita pemenuhan terus menerus dari janji Tuhan,” Lihatlah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” (Mat 28:20). Justru dalam Ekaristi Kudus, lewat perubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Tuhan, Gereja bersukacita atas kehadiran-Nya dengan istimewa. Sejak Pentekosta, tatkala Gereja sebagai Umat Perjanjian Baru, memulai peziarahannya menuju tanah air surgawi, Sakaramen Ilahi ini telah menandai hari-hari hidupnya, sambil mengisi dengan pengharapan yang tangguh.
Tepatlah penegasan Konsili Vatikan II bahwa kurban Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan Kristiani, karena dalam Ekaristi  Kudus ini terkandunglah  seluruh kekayaan rohani Gereja, yakni Kristus sendiri, Roti Paskah kita yang hidup. Lewat Tubuh-Nya sendiri yang oleh Roh Kudus dijadikan hidup dan pemberi hidup, Ia menawarkan hidup-Nya kepada manusia. Demikianlah Gereja selalu mengarahkan pandangannya kepada Tuhannya. Disanalah Gereja  menemukan kepenuhan pernyataan kasih Tuhan yang tak terbatas (SC art 10).
Akan tetapi, ekaristi itu puncak yang dituju kegiatan Gereja, dan serta sumber segala daya-kekuatannya. Sebab usah-usaha kerasulan mempunyai tujuan ini: supaya semua orang melalui iman dan baptis menjadi putera-puteri Allah, berhimpun menjadi satu, meluhurkan Allah ditengah Gereja, ikut sertadalam Korban dan menyantap perjamuan Tuhan. Dilain pihak Liturgi sendiri mendorong Umat beriman, supaya sesudah dipuaskan “dengan Sakramen-sakramen Paska menjadi sehati-sejiwa dalam kasih” (26). Liturgi berdoa supaya “mereka mengamalkan dalam hidup sehari-hari apa yang mereka peroleh dalam iman” (27). Adapun pembaharuan perjanjian Tuhan dengan manusia dalam Ekaristi menarik dan mengobarkan Umat beriman dalam cinta kasih Kristus yang membara. Jadi dari Liturgi, terutama dari Ekaristi, bagaikan dari sumber, mengalirlah rahmat kepada kita, dan dengan hasil guna yang amat besar diperoleh pengudusan manusia dan permuliaan Allah dalam Kristus, tujuan semua karya Gereja lainnya.
Ekaristi adalah sakramen utama dalam Gereja. Dalam Ekaristi kita merayakan misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus dalam rupa roti dan anggur. Ekaristi adalah ciri Gereja yang seluas dunia. Ekaristi adalah milik bersama yang dihayati secara personal. Karena itu perlu dibakukan dalam Hukum Kanonik yang senantiasa memerlukan pembaharuan. Setiap saat Gereja perlu membaharui dirinya. Demikian juga halnya Liturgi, khususnya Ekaristi. Karenanya upaya inkulturasi perlu dilaksanakan. Inkulturasi Ekaristi di Indonesia berarti menghadirkan seluruh misteri Kristus bagi seluruh Gereja dan merupakan perayaan iman yang hidup dan sungguh dihayati oleh orang beriman di Indonesia. Ekaristi lebih daripada hanya suatu perayaan ritual-devosional semata. Sebab, Ekaristi ada demi pembangunan jemaat. Ekaristi menjadi tradisi Gereja yang hidup bila senyatanya menjadi peristiwa perjumpaan antara Allah yang hadir dalam sejarah dengan manusia yang mendambakan keselamatan.
Dengan pernyataan yang demikian, maka ekaristi merupakan suatu kewajiban umat beriman untuk melaksanakannya sebagai pernyataan iman dan syukur umat terhadap karya dan kasih Allah kepada umat-Nya. Kesangupan dan kesediaan umat dalam kesadaran untuk mengikuti, terlibat dalam perayaan ekaristi dituntut untuk semakin sadar. Allah yang menyatakan diri dengan melewati Ekaristi merupakan bentuk kasih Allah yang begitu besar tehadap kehidupan manusia.

PEMIKIRAN DASAR
1.1  Pertimbangan Psikologi
Tata perayaan Ekaristi merupakan dasar dari kehidupan umat beriman kepada Yesus Kristus. Pada kenyataan yang ada, masih banyak umat yang tidak menyadari bahwa dalam tata perayaan ekaristi Allah sendiri yang hadir. Kebnayakan umat menganggap bahwa ekaristi merupakan salah satu rutinitas mereka sebagai umat yang beriman kepada Allah.
Alla yang hadir melalui persekutuan jemaat, sabda yang dibacakan, dalam peristiwa konsekrasi (roti dan anggur) yang berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus yang dikurbankan dan dalam diri seorang pemimpin (Imam). Faktor umat menganggap bahwa ekaristi merupakan sebuah kewajiban bagi mereka, maka dari pada itu ekaristi mereka jalankan sebagai bentuk kewajiban, akan tetapi jarang mereka menganggap bahwa ekaristi merupanakan peristiwa Allah itu hadir  kedalam hidup mereka.  
1.2  Pertimbangan Teologis
Penginjil Yohanes 6:56 bersabda “barang siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” , perkataan Yesus ini terpenuhi dalam perjamuaan malam terakhir dalam sebuah peristiwa pemecahan roti dan anggur yang menjadi lambang tubuh dan darah Yesus bersama dengan para murid-murid-Nya.
Perayaan Ekaristi hingga saat ini selalu dilaksanakan setiap hari di gereja-gereja. Begitu pula halnya bahwa Yesus sungguh hadir dalam Ekaristi yang kita rayakan. Kristus hadir dalam diri imam yang memimpin perayaan Ekaristi, dalam sabda-Nya, dalam keseluruh perayaan Ekaristi, dan kehadiran yang paling nyata adalah dalam rupa roti dan anggur yang sudah di konsekrasi.
1.3  Pertimbangan Metodologis
Pada kegiataan katekese yang bertemakan “Ekaristi sebagai pusat hidup umat beriman” metode yang digunakan adalah:
Ø  Mengali pengalaman dari umat tantang bagaimana pemahaman mereka dengan keikutsertaan atau keterlibatan mereka dalam tata perayaan Ekaristi di stasi atau di tempat lain pada waktu mereka mengikuti perayaan Ekaristi bersama.
Ø  Diskusi. Memberikan kesempatan kepada peserta dalam berdiskusi dengan sesama dalam kaitan dengan tema yang akan dibahas dalam pembinaan.
Ø  Sharing pengalaman. Metode ini memberikan kepada peseta bagaimana tata perayaann itu bisa mempengaruhi hidup mereka sebagai jamaat beriman kepada Allah sehingga membawa penyadaran kepada mereka ikut terlibat dalam bertugas di dalam tata perayaan Eakristi.
1.4  Pertimbangan Katekis
Dengan pola piker umat yang masih menganggap bahwa Ekaristi merupakan sebuah rutinitas atau kewajiban yang harus mereka lakukan atau jalankan sebagai umat beriman memiliki dampak yang amat memperihatinkan, maka dari pada itu kegiatan katekese ini lebih menekankan kepada umat akan tindakan bagaimana umat dapat menikmati tata perayaan Ekaristi sebagai pengungkapan iman yang hidup bukan hanya sebagai sebuah kewajiban akan tetapi sebagai pengungkapan iman yang benar-benar mengalami Yesus Kristus yang hadir dalam hidup mereka.


PERTEMUAN I
1.      Tema       
Ekaristi Dasar Hidup Umat Beriman
2.      Pemikiran Dasar
Sebagai umat beriman kepada Yesus Kristus, Ekaristi menjadi dasar dan puncak perayaan iman. Kehadiran dan partisipasi aktif umat beriman dalam Perayaan Ekaristi amat penting, untuk mengungkapkan dengan lebih jelas bahwa pada hakekatnya Perayaan Ekaristi adalah perayaan umat, walaupun kadang-kadang umat tidak dapat hadir. Oleh karena itu sungguh penting untuk mengatur Perayaan Ekaristi atau Perjamuan Tuhan tersebut sedemikian rupa, sehingga para pelayan Perayaan Ekaristi dan umat beriman lainnya dapat berpartisipasi aktif dalam perayaan itu menurut tugas dan peran masing-masing, serta dapat pula memetik buah-hasil Ekaristi sepenuh-penuhnya bagi kehidupan mereka. Itulah yang dikehendaki Kristus ketika menetapkan Ekaristi Tubuh dan Darah-Nya. Dengan maksud itu pula Ia mempercayakan misteri ini kepada Gereja, mempelai-Nya yang terkasih, sebagai kenangan akan wafat dan kebangkitan-Nya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, hendaknya Ekaristi dirayakan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan umat setempat. Seluruh Perayaan Ekaristi hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga umat yang hadir dapat berpartisipasi secara sadar, aktif, dan penuh, yakni dengan seluruh jiwa dan raganya, serta dikobarkan dengan semangat iman, harap dan kasih. Itulah yang diharapkan Gereja dan dituntut oleh hakekat Perayaan Ekaristi itu sendiri. Umat Kristiani, mempunyai hak dan kewajiban untuk beribadat secara demikian, berkat pembaptisan mereka. Agar perayaan seperti itu sungguh- sungguh semakin selaras dengan semangat dan ketentuan-ketentuan Liturgi Kudus, dan supaya dampak pastoralnya semakin meningkat, maka Pedoman Umum Misale Romanum dan Tata Perayaan Ekaristi perlu dipahami oleh para petugas liturgi dan seluruh umat, sehingga Perayaan Ekaristi sungguh menjadi perayaan umat dan bermakna bagi umat. Kesadaran Umat akan pentingnya Ekaristi perlu diperjuangkan terus-menerus, dalam kenyataannya masih jauh dari harapan. Penyimpangan umat waktu perayaan Ekaristi masih sering terjadi.
Sebagai kebutuhan umat dalam merayakan imannya, Ekaristi merupakan pengungkapan rasa syukur dan kasih umat kepada Allah.
3.      Pembukaan
a.      Doa Pembukaan
ü  Pemandu memgajak peserta untuk mengambil sikap doa, sebagai kesiapan untuk mengikuti proses katekese ini, dan doa dibawakan oleh pemandu.
Ya Allah Bapa yang kekal dan kuasa, terima kasih atas segala berkat dan anugerahMu yang telah Engkau selalu berikan kepada kami. Kami beterima kasih atas hidup ini yang selalu Engkau tuntun dan Engkau berkati. Bapa yang kekal dan kuasa, berkatilah kami yang berkumpul pada malam hari ini, semoga apa yang kami bicarakan dan kami dalami bersama menjadi bekal dan kekuatan serta semangat bagi kami dalam menghadirkanMu dalam setiap peristiwa hidup kami. Semoga apa yang kami dalami pada malam hari ini menjadi dasar bagi kami untuk selalu sedia dengan rendah hati untuk melayaniMu. Engkau hendak kami puji kini dan sepanjang segala masa. Amin
b.      Lagu Pembuka
ü  Pemandu membawa peserta untuk mengawali pertemuan dengan menyanyikan sebuah lagu yang diambil dari puji syukur no 330 (Dengan Gembira)
c.       Pengantar
Dalam kenyataan hidup ini, oleh Tuhan kita diberi waktu 6 hari untuk bekerja, dan pada satu hari yaitu pada hari minggu kita sebagai orang yang beriman kepada Allah hendalah harus melakukan kewajiban kita untuk mensyukuri atas karya Allah yang begitu besar dalam hidup kita. Mengikuti perayaan Ekaristi hari minggu bukan hanya sebatas kesadaran kita saja, jika kita merasakan Allah yang selalu menyapa kita sudah tentu pada hari itulah kita patut bersuka cita atas apa yang telah IA berikan kepada kita. Bersyukur, mohon belaskasihan dan berkat dariNya merupakan keharusan bagi kita untuk menumbuhkan sikap semakin mencintai dan mengasihi Allah yang selama ini sudah mengasihi kita.
Namun pada kenyataannya, sangat jarang bagi kita untuk mengerti hal yang demikian, pergi kegereja dan mengikuti Ekaristi masih dipandang sebagai hanya sebagai suatu kewajiban, akan tetapi lebih dari pada itu. Banyak hal yang dapat kita lakukan dalam Ekaristi. Dalam Ekaristi itulah Allah yang menyatakan diri kepada kita dalam berbagai hal. Melihat kenyataan yang semacam ini, apa adakah sesuatu yang mendorong kita untuk ikut terlibat dalam Ekaristi? Jika ada, dari manakah kekuatan itu? Seperti apakah bentuknya?
4.      Lengkah-Langkah
A.    Langkah 1
·         Pemandu mengajak peserta untuk menggali pengalaman atau situasi konkrit yang terjadi dalam hidup beriman umat.
·         Pemandu membagikan sebuah artikel tentang keluarga atau pribadi yang hidup dalam keimanannya dan hidup dalam situasi jauh dari kehidupan menggereja.
·         Pemandu meminta peserta untuk sekilas membaca, serta memahami isi dari cerita tersebut.
SI ANAK DAN IBU YANG BIJAK SANA
Di sebuah desa hiduplah seorang ibu yang kesehariaany bekerja sebagai tukang penjual keranjang. Dalam hidupnya, ibu tersebut dikaruniai seorang anak yang semasa itu telah berusia 12 tahun. Hari demi hari kehidupannya sebagai pembuat keranjang itu si ibu tekuni, dan dengan itulah ibu tersebut mampu membiayai kehidupan dia dan anaknya. Dengan ketekunannya, ibu tersebut mempu bukan hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari dia dan anaknya, akan tetapi si ibu tersebut mampu menyekolahkan anaknya sampai pada jenjang SMP.
Dengan rumah yang amat sederhana yang bertembokan dari  kulit kayu, dan dalam hidup mereka tidak pernah merasa kurang apapun. Pada tataran hidup bermasyarakat, ibu tersebut memiliki tetangga yang amat kaya raya dan memiliki rumah serta sarana pra sarana lainnya yang begitu mewah. Walaupun demikian kehidupan ibu dan anaknya tersebut, mereka tidak minder akan status mereka sebagai orang yang boleh dikatakan golongan miskin. Kebahagiaan, kedamaian dan sukacita yang disertai dengan canda dan tawa sering terdengar dari rumah yang bertembokan kulit kayu tersebut.
Suasana yang demikian tidak ditemukan dalam rumah mewah yang menjadi tetangga ibu tersebut. Sang ibu tersebut sangat sayang kepada anaknya, perhatian dan waktu yang sangat cukup ia berikan kepada anaknya dalam mendidiknya sebagai orang yang baik dikemudian hari, terutama sebagai orang yang beriman. Contoh dalam keteladanan sebagai orang yang beriman kepada Allah, ia berikan kepada anaknya, dan ini terlihat bagaimana sang ibu tersebut menjalankan panggilannya sebagai orang beriman yang patuh dan taat kepada kehendak Allah. Walaupun hasil dalam menjual keranjang itu tidak tetap hasil yang ia peroleh, sang ibu tersebut selalu bersyukur atas apa yang ia dapatkan, ia yakini bahwa ini adalah kasih yang diberikan oleh Allah kepada nya. Setiap malam ia menggingatkan kepada anaknya untuk berdoa, baik sebelaum dan sesudah makan, tidur, dan dalam segala hal, karena menurutnya segala sesuatu yang dimulai dari restu Allah maka semuanya akan berjalan lancar sesuai dengan kehendak Allah.
Lain halnya dengan kehidupan pada tetangganya, mereka disibukan dengan urusan usaha mereka, terkadang dalam beberapa waktu mereka tidak bisa berkumpul dalam keluarga apa lagi untuk bertemu dan membicarakan masalah keluarga. Keluarga yang kaya ini amat jauh kehidupan mereka dari Tuhan, jarang pergi kegereja dan mereka bekerja tidak pernah mengenal waktu antara siang dan malam semuannya sama. Dalam situasi yang semacam ini, rumah si kaya tersebut terlihat amat suram. Tibalah sebuah musibah yang amat besar dari keluarga kaya tersebut, usaha mereka menjadi bangkrut karena termakan krisis globalisasi dan secara satu persatu isi di dalam rumah mereka digerogoti oleh pemegang saham mereka. Kurang menerima akan situasi yang semacam ini, maka semakin kacaulah keluarga kaya tersebut dan pada akhirnya mereka keluarga yang terpecah belah.
Walaupun krisis globalisasi yang amat dasar melanda negeri mereka, ibu dan anak tersebut tidak takut karena kehidupan mereka sudah sangat sering termakan globalisasi yang terjadi disetiap waktu mereka. Semangat dan ketekunan mereka dalam bekerja itu tidak pudar. Sampailah pada suatu ketika, sang anak itu bertanya kepada ibunya.
A: anak
B: Ibu
S: Si orang Kaya
A:
Bu, tanya anak, mengapa ibu sering sekali pergi ke gereja? Pada hal kita bisa berjualan pada hari minggu, karena hari minggu itu banyak orang yang ada di pasar dan mungkin mereka mau membeli keranjang kita?
B:
Nak, pergi kegereja itu adalah kewajiban kita sebagai umat Allah yang telah dikasihani oleh Allah.
B:
Tanya ibu, mengapa kamu berkata demikian, nak?
A:
Bu, sebenarnya apa yang ibu dapatkan digereja, ketika saya melihat ibu pulang, ibu tidak membawa apa-apa? Ketika saya melihat ibu berdoa, yang hanya ada ibu menangis terus, saya merasa ibu sangat tertekan sekali pada waktu berdoa?
B:
Ibu menangis bukan karena ibu tertekan atau menyesal akan situasi kita, tetapi ibu merasa bahwa ibu telah berdosa, dan mohon ampun kepada Allah supaya ibu dan kamu selalu diberkati oleh Allah.
A:
Bu, dengan ibu pulang tidak membawa apa-apa dari gereja ibu masih mau pergi kegereja?
B:
(sang ibu berpikir sejenak)
B:
Kata ibu, nak ibu tidak akan memberikan penjelasan apapun tetang apa yang ibu dapatkan sepulang dari gereja, ibu mau tanya ni ama kamu, kamu mau atau tidak ikut ibu kegereja pada hari minggu ini?
A:
Tidak mau bu, karena bendingan saya bekerja dirumah saja ketimbang ikut ibu pergi kegereja, ka nada gunanya?
B:
Bailah nak, oh ya ibu boleh minta tolong enggak, kamu mengambil air untuk kita minum dan mengisi tong tersebut, nanti yang kamu gunakan jangan ember, karena emaber kita telah penuh semua. Nah, kamu mengambil air dengan mengunakan keranjang yang ada di dapur kita, Ibu mau berangkat sembanyang dulu, ya?
A:
(karena ia amat patuh terhadap ibunya maka ia melakukan apa yang diperintahkan oleh ibunya)

Dengan penuh semangat, dan dengan maksud ingin membuat ibunya bahagia maka ia melakukan dengan iklas apa yang diperintahkan oleh ibunya tanpa ia berpikir panjang, sang anak tersebut mengambil keranjang tersebut yang ada di dapur dan langsung mengambil air dengan mengunakan keranjang tersebut. Sementara itu, keranjang tersebut sudah sangat kotor rupanya. Berkali-kali sang anak tersebut mengambil air dengan mengunakan keranjang tersebut namun tetap saja tong tersebut tidak penuh sampai pada waktu ibunya pulang dari gereja.
Setiba ibunya pulang dari gereja, dan masak untuk makan siang mereka, sementara anak tersebut masih juga mengambil air. Tibalah sebuah pemikiran yang muncul dari benak si anak tetersebut, lalu ia berkata “bagaimana tong itu akan penuh, wong saya mengambil air dengan mengunakan jaring yang bolong, wah ibu ini mau mengerjain saya ya”. Bergegaslah anak itu pulang sungai dan menanyakan kepada ibunya, katanya?
A:
Bu, mengapa ibu meminta saya untuk mengambil air ini dengan mengunakan jaring ini? Terus kapada tong yang besar itu akan penuh kalau begini? Wah ibu mau menghukum saya yang karena saya enggak mau di ajak kegereja?
B:
Nak, ibu tau, mana mungkin kamu bisa mengisi tong itu dengan mengambil air dengan menginakan jarring itu.
A:
Terus maksid ibu apa? Saya kesal terhadap ibu, ibu udah engak sayang sama saya kah?
B:
Bukan begitu anakku, kamu dalam hal ini telah mendapat pelajaran yang amat besar? Tanya anak?
A:
Pelajaran apa? Wong hanya ada adalah capek? (dengan nada akan marah)
B
Anakku, sekarang kamu lihat apa yang terjadi pada keranjang kita setelah kamu mengunakannya untuk mengambil air?
A:
Bu, tadiknya keranjang ini amat kotor, kok sekarang ia menjadi bersih?
B:
Nah, itulah nak yang ibu maksudkan, ibu tidak menghukum kamu, karena dirimulah yang akan menghukum kamu sendiri.
Kata ibu, nak kita pergi kegereja memang secara kasat mata, hal yang nampak memang tidak membawa apa-apa, terlebih-lebih uang, akan tetapi kesuciaan hati, kejernihan hati dan ketulusan hatilah yang kita dapatkan, dan hal tersebut tidak akan menyesatkan kita. Hubungan kita dengan Tuhan tidak dapat dinilai atau diuangkan dengan apapun, karena Tuhan bekerja dalam hati kita. Nah mengikuti perayaan Ekaristi pada hari minggu adalah sebagai salah satu pengungkapan iman kita, kita bersyukur atas apa yang ia berikan, mohon berkatnya supaya kita dimampukan terutama untuk selalu memuji dan bersyukur atas apa yang kita terima.

Dalam perayaan Ekaristi, Allah yang kita imani itu hadir dengan berbagai bentuk melalui pemimpin kita (imam), sabdanya yang menjadi pedoman hidup kita, sakramen yang menjadi tubuh dan darahnya dan dari persekutuan kita yang pada waktu itu memohon kepada Allah. Nak, itulah jawaban atas segala yang kamu lakukan. Menjadi orang beriman bukan hanya dengan kata-kata saja, akan tetapi dalam segala tindakan. Kita telah diberi waktu yang cukup untuk bekerja, nah pada hari minggu kita wajib mensyukurinya dan memohon berkat dari Tuhan supaya kita tetap bertahan hidup. Coba kamu lihat apa yang terjadi pada tetangga kita yang kaya itu, mereka bukan tidak mengenal Tuhan akan  tetapi mereka melupakan Tuhan. Tuhan yang memberikan keyamanan kepada mereka, setelah mereka mendapatkannya mereka lupa untuk mensyukurinya, hal yang demikianlah yang tidak boleh.
Ikut dan datang kegereja belum cukup, akan tetapi hendaklah kita harus berperan akibat dalam segala kegiatan Gereja, dengan demikian kita bukan hanya melayani sesama kita, akan tetapi kita ikut ambil bagian dalam melayani Tuhan yang hadir dalam hidup kita. Nak, sadarlah karena dengan kamu sadar maka kamu akan dicintai oleh Tuhan sepanjang usiamu, ibu mampu membesarkan kamu itu semua karena kekuatan dan belas kasih yang ibu dapatkan dari Tuhan. Maka dengan demikian, rajinlah kamu berdoa, pergi kegereja pada hari minggu dan ikut ambil bagian dalam tugas gereja, maka kamu akan dicintai oleh Tuhan. Jawab si anak, maaf bu atas kebodohan saya, saya berjanji akan pergi kegereja dan berdoa serta bersyukur atas apa yang saya dapatkan dan mohon berkatnya atas segala usaha saya. Dengan peristiwa itu, bertambahlah sukacita dan damai kedalam kehidupan sang ibu dan anak tersebut. (http://damaisertamu.blogspot.com).
ü  Pemandu mengajak peserta untuk mendalami isi dari cerita tersebut dengan dipandu beberapa pertanyaan.
1.      Bagaimana situasi kehidupan keluarga Si ibu dan anaknya yang pas-pasan dan tetangganya yang kaya raya itu?
2.      Apakah si ibu dalam cerita tadi bisa disebut  sebagai orang bijak? Apa alasannya?
3.      Apakah kehidupan ibu dalam cerita tadi dapat diketakan sebagai orang beriman?
4.      Kekuatan apakah yang dimiliki oleh ibu tersebut dalam menyatakan imannya sebagai umat Allah?
5.      Seperti apakah Allah itu hadir dalam kehidupan kita pada waktu mengikuti Ekaristi?
B.     Langkah 2
·         Pemandu menggali pengalam umat tentang kehidupan mereka sebagai umat yang beriman dengan beberapa pertanyaan?
1.      Apakah dalam hidup kita telah menyerupai si Ibu dalam cerita di atas dalam mengwujudkan iman kita? Apa alasan kita melakukannya?
2.      Sejauh mana Ekaristi itu dapat mengubah pola hidup saya untuk menjadi ornag yang dewasa dalam iman?
3.      Hal apa saja yang dapa kita wartakan setelah kita mengikuti perayaan Ekaristi atau ibadat sabda selama ini?
C.    Langkah 3 Pleno
·         Peserta diberikan kesempatan untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang telah disiapkan.
·         Pemandu, jika perlu mencatat hasil jawaban peserta dalam menjawab pertanyaan tersebut.
·         Setelah pertanyaan habis dijawab, pemandu sedikit kesimpulan mengenai cerita tersebut.
Bapak dan ibu yang terkasih, bagaimana dengan kita yang ada di stasi ini, apakah kita telah berbuat sesuatu atau menyerupai si ibu dalam cerita di atas dalam membina kehidupan sebagai orang bariman? Sejauh manakah hal itu kita lakukan? Dan apa alasan hal itu kita lakukan?
D.    Langkah 4 Peneguhan
·         Pemandu membacakan dasar biblisnya mengenai tema “Ekaristi sebagai dasar hidup umat beriman” yang di ambil dari DKV II SC art 7 “Kehadiran Kristus Dalam Liturgi Gereja”.
KEHADIRAN KRISTUS DALAM LITURGI (SC 7)

Untuk melaksanakan karya sebesar itu, Kristus selalu mendampingi Gereja-Nya terutama dalam kegiatan-kegiatan liturgis. Ia hadir dalam Korban Misa, baik dalam pribadi pelayan, “karena yang sekarang mempersembahkan diri melalui pelayanan imam sama saja dengan Dia yang ketika itu mengorbankan Diri di kayu salib( 20), maupun terutama dalam (kedua) rupa Ekaristi. Dengan kekuatan-Nya Ia hadir dalam Sakramen-sakramen sedemikian rupa, sehingga bila ada orang yang membabtis, Kristus sendirilah yang membabtis(21). Ia hadir dalam sabda-Nya, sebab Ia sendiri bersabda bila Kitab suci dibacakan dalam Gereja. Akhirnya Ia hadir, sementara Gereja memohon dan bermazmur karena Ia sendiri berjanji : bi la dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, disitulah Aku berada diantara mereka (Mat 18:28). Memang sungguh, dalam karya seagung itu, saat Allah dimuliakan secara sempurna dan manusia dikuduskan, Kristus selalu menggabungkan Gereja, mempelai-Nya yang amat terkasih, dengan diri-Nya Gereja yang berseru kepada Tuhannya dan melalui Dia berbakti kepada Bapa yang kekal. Maka memang sewajarnya juga Liturgi dipandang bagaikan pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus; disitu pengudusan manusia dilambangkan dengan tandatanda lahir serta dilaksanakan dengan cara yang khas bagi masing-masing; disitu pula dilaksanakan ibadat umum yang seutuhnya oleh Tubuh mistik Yesus Kristus, yakni Kepala beserta para anggota-Nya. Oleh karena itu setiap perayaan liturgis sebagai karya Kristus sang Imam serat Tubuh-Nya yakni Gereja, merupakan kegiatan suci yang sangat istimewa. Tidak ada tindakan Gereja lainnya yang menandingi daya dampaknya dengan dasar yang sama serta dalam tingkatan yang sama.
Akan tetapi Liturgi itu puncak yang dituju kegiatan Gereja, dan serta merta sumber segala daya-kekuatannya. Sebab usah-usaha kerasulan mempunyai tujuan ini: supaya semua orang melalui iman dan babtis menjadi putear-putera Allah, berhimpun menjadi satu, meluhurkan Allah ditengah Gereja, ikut serta dalam Korban dan menyantap perjamuan Tuhan. Dilain pihak Liturgi sendiri mendorong Umat beriman, supaya sesudah dipuaskan “dengan Sakramen-sakramen Paska menjadi sehati-sejiwa dalam kasih”(26). Liturgi berdoa supaya “mereka mengamalkan dalam hidup sehari-hari apa yang mereka peroleh dalam iman” (27). Adapun pembaharuan perjanjian Tuhan dengan manusia dalam Ekaristi menarik dan mengobarkan Umat beriman dalam cinta kasih Kristus yang membara. Jadi dari Liturgi, terutama dari Ekaristi, bagaikan dari sumber, mengalirlah rahmat kepada kita, dan dengan hasil guna yang amat besar diperoleh pengudusan manusia dan permuliaan Allah dalam Kristus, tujuan semua karya Gereja lainnya.
KESIMPULAN
a.       Mengikuti perayaan Ekaristi pada hari minggu bukan hanya sebuah kewajiban kita, anak tetapi panggilan kita sebagai orang beriman kepada Allah. Dalam ekaristi itulah kita diperbaharui segala janji-janji pada waktu pembaptisan kita yang sejak awal kita terima.
b.      Allah berkenan menyatakan diriNya kepada kita dalam Ekaristi dengan melalui Para pemimpin kita yaitu Romo atau pastor, dalam bacaan-bacaan yang kita dengar pada waktu mengikuti tata perayaan ekaristi, dalam peristiwa konsekrasi berubahnya roti menjadi tubuh Kristus dan anggur menjadi darah Kristu, dan dalam persekutuan kita yang secara bersama-sama memohon kepadaNya, bersyukur kepadanya serta berkatNya kepada kita.
c.       Dikatakan sebagai dasar hidup kita, karena Allah berkenan hadir ditenggah-tenggah kita yang berdosa ini. Itulah sebabnya, kita diundang oleh Allah dalam ekaristi supaya kita semakin membangun komunikasi, relasih kasih dengan Allah, dengan demikian kita akan menjadi putra dan putrinya yang semakin dipenuhi oleh karunia kasih dari Allah.
d.      Allah sangat mencintai kita, hal tersebut tinggal dari pihak kita bagaimana kita menangapi kasih Allah itu. Keterbukaan hati dan ketulusan hati yang harus kita miliki, dengan demikian Allah itu selalu merajai hati kita, da dengan demikian kita akan menjadi orang yang dewasa didalam iman kepadaNya.
e.       Dan pada akhirnya, kita boleh diutus oleh Allah dalam melayani dan menyebarkan sabdaNya kepada sesama kita dalam kehidupan kita sehari-hari.
f.       Bapak dan ibu yang terkasih, hal tersebut akan tetrjadi jika kita membiarkan Allah itu merajai hidup kita.
5.      Penutup
ü  Pertemuan ditutup dengan doa spontan.
ü  Pemandu meminta salah satu peserta dalam mendoakan doa penutup dan diakhiri secara bersama-sama dengan doa Bapa Kami.


PERTEMUAN II
B.     Tema
Ekaristi Sebagai puncak perutusan Gereja
C.    Pemikiran Dasar
Pada kenyataannya, bahwa Ekaristi merupakan dasar dan puncak hidup menggereja. Pertumbuhan Spiritualitas Kristiani yang bergerak ke arah ‘persatuan yang semakin erat dengan Kristus, akan mencapai puncaknya pada Ekaristi yang adalah Kristus sendiri. Kristus hadir di dalam Ekaristi, sesuai dengan janjiNya pada saat meninggalkan warisan Ekaristi dalam peristiwa Perjamuan yang terakhir sebelum sengsaraNya. Ekaristi diberikan sebagai kurban Tubuh dan Darah-Nya, agar dengan mengambil bagian di dalamnya, kita dapat bersatu dengan-Nya dan menjadi satu Tubuh. Jadi, Ekaristi merupakan Perjanjian Baru dan Kekal yang menjadi dasar pembentukan Umat pilihan yang baru, yaitu Gereja. Di dalam Ekaristi kita melihat cerminan liturgi surgawi dan kehidupan kekal di mana Allah meraja di dalam semua. Dengan menerima Ekaristi, kita dipersatukan dengan Kristus dan melalui Dia, kepada Allah Tritunggal, sebab Ekaristi adalah kenangan kurban Yesus dalam ucapan syukur kepada Allah Bapa, oleh kuasa Roh Kudus. Jadi dengan menerima Ekaristi, Tuhan tidak saja hanya hadir, tetapi ‘tinggal’ di dalam kita sehingga kita mengambil bagian di dalam kehidupan Ilahi, kehidupan yang memberikan kita kekuatan untuk mencapai kesempurnaan kasih yang diajarkan oleh spiritualitas Kristiani, yaitu ‘mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama’.
Dalam perjamuan yang Kudus itu, Allah mempersembahkan diri dalam rupa Roti dan anggur yang dalam peristiwa konsekrasi berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Dengan melalui keikutsertaan umat beriman di dalam Ekaristi, dipersatukan dengan Allah dan ikut serta dalam tugas dan pelayanannya.
Semua orang Kristen yang percaya kepada Kristus, dengan melalui sakramen Ekaristi di utus oleh Allah untuk menyampaikan berita yang mengembirakan ini kepada semua orang Mat 28:19-20 “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. Dalam ralitanya, Allah dengan diwakili oleh Gereja mengutus kita untuk mewartakan bahwa juruselamat yang penuh dengan belaskasih telah datang untuk mengampuni dosa kita dan membawa kita kepada Bapa-Nya.
Kasih-Nya yang telah begitu besar kepada kita telah terbukti bahwa Allah benar-benar mengasihi kita. Dalam hal ini, semua orang diutus oleh Allah untuk memberitakan bahwa penyelamatan sudah datang dan bersama kita.
Walaupun demikian, masih juga banyak diantara kita yang tidak mengindahkan perkataan dan perintah Allah itu sendiri kepada kita. Kita lebih suka hidup sebagai orang yang beriman kepada adalah dalam keteunan hidup doa, akan tetapi untuk mengikuti Allah bearti harus mampu dan mau memberitakan Allah.
D.    Pembukaan
1)      Doa Pembukaan
ü  Pemandu memulai katekese dengan doa pembukaan yang akan dipimpin oleh pemandu sendiri.
Ya Bapa Yang Mahakuasa, kami bersyukur kepada-Mu atas segala kemurahan dan rahmat-Mu, yang selalu mengaliri hidup kami. Kami bersyukur karena Engkau berkenan memanggil kami untuk mengikuti pertemuan ini. Ya Bapa yang penuh cinta, terangilah kami semua dengan Roh Cinta-Mu, agar kami semakin memahami, menyadari dan menghayati bahwa Ekaristi adalah sumber dan puncak seluruh hidup kami. Ya Bapa Yang Mahakudus, doa ini kami panjatkan kehadirat-Mu hanya demi keluhuran nama-Mu, dengan perantara Yesus Kristus, Tuhan dan Juru selamat kami, yang bersama Dikau dan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, kini dan sepanjang segala masa.
2)      Lagu Pembuka
ü  Pemandu membawa peserta untuk menyanyikan sebuah lagu yang di ambil dari puji Syukur no 682 (Panggilan Tuhan)
3)      Pengantar
Karena kesibukan kita terhadap rutinitas kita, terkadang hal-hal yang seharusnya kita lakukan sebagai umat yang beriman kepada Yesus Kristus sering terlupakan. Kita lebih memandang bahwa dengan menjadi orang yang rajin berdoa itu sudah cukup, Allah menghendakan yang lain dari maksud kita. Dalam tata perayaan Ekaristi kita diutus oleh Allah untuk selalu mau dan mampu untuk memberitakan Allah dimanapun kita berada. Pertanyaan besar bagi kita, sudahkah hal tersebut kita laksanakan? Sejauh manakah kita melaksanakan tugas tersebut? Bapak dan ibu yang terkasih, katekese kita pada hari ini akan membicarakan tetang bagaiman pengalaman yang kita dapatkan dari Ekaristi itu mnjadi dasar dan pedoman bagikita untuk selalu terlibat dalam tugas dan pewartaan.
E.     Langkah-Langkah
1)      Langkah 1
®    Pemandu mengajak peserta untuk mengali pengalaman atau situasi konkrit yang terjadi dalam hidup beriman umat.
®    Peserta diberikan sebuah artikel yang berbicara tentang betapa pentingnya katerlibatan umat dalam perayaan Eakristi.

PERAYAAN EKARISTI ADALAH PERAYAAN UMAT

Kehadiran dan partisipasi aktif umat beriman dalam Perayaan Ekaristi amat penting, untuk mengungkapkan dengan lebih jelas bahwa pada hakekatnya Perayaan Ekaristi adalah perayaan umat, walaupun kadang-kadang umat tidak dapat hadir. Oleh karena itu sungguh penting untuk mengatur Perayaan Ekaristi atau Perjamuan Tuhan tersebut sedemikian rupa, sehingga para pelayan Perayaan Ekaristi dan umat beriman lainnya dapat berpartisipasi aktif dalam perayaan itu menurut tugas dan peran masing-masing, serta dapat pula memetik buah-hasil Ekaristi sepenuh-penuhnya bagi kehidupan mereka. Itulah yang dikehendaki Kristus ketika menetapkan Ekaristi Tubuh dan Darah-Nya. Dengan maksud itu pula Ia mempercayakan misteri ini kepada Gereja, mempelai-Nya yang terkasih, sebagai kenangan akan wafat dan kebangkitan-Nya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, hendaknya Ekaristi dirayakan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan umat setempat. Seluruh Perayaan Ekaristi hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga umat yang hadir dapat berpartisipasi secara sadar, aktif, dan penuh, yakni dengan seluruh jiwa dan raganya, serta dikobarkan dengan semangat iman, harap dan kasih. Itulah yang diharapkan Gereja dan dituntut oleh hakekat Perayaan Ekaristi itu sendiri. Umat Kristiani, mempunyai hak dan kewajiban untuk beribadat secara demikian, berkat pembaptisan mereka. Agar perayaan seperti itu sungguh- sungguh semakin selaras dengan semangat dan ketentuan-ketentuan Liturgi Kudus, dan supaya dampak pastoralnya semakin meningkat, maka Pedoman Umum Misale Romanum dan Tata Perayaan Ekaristi perlu dipahami oleh para petugas liturgi dan seluruh umat, sehingga Perayaan Ekaristi sungguh menjadi perayaan umat dan bermakna bagi umat.
Kesadaran Umat akan pentingnya Ekaristi perlu diperjuangkan terus-menerus, dalam kenyataannya masih jauh dari harapan. Penyimpangan umat waktu perayaan Ekaristi masih sering terjadi.
(http://www.servatius-kampungsawah.org/index.php?)
2)      Langkah 2
1.      Mengapa di stasi kita ini harus ada Ekaristi atau Ibadat Sabda?
2.      Apa yang harus kita lakukan dalam mengikuti perayaan Ekaristi atau ibadat sabda?
3.      Sejauh manakah kita dapat memaknai bahwa Eakristi sebagai dasar dari hidup kita sebagai orang yang beriman kepada Allah?
3)      Langkah 3 Pleno
®    Hasil diskusi peserta diplenokan.
®    Peserta diberi kesempatan untuk bertanya tentang hasil diskusi tersebut.
Bapak dan ibu yang terkasih, setiap kita dipanggil oleh Allah untuk mengikuti perayaan Ekaristi dan serta ikut ambil bagian dalam bertugas baik sebagai lector, dirigen, pemimpin ibadat dan lain-lain merupakan hakekat dari diri kita sebagai umat Allah yang mau melayani dan mencintai Allah dan sesama kita, dan peran kita ikut serta menghadirkan Tuhan kedalam hidup kita dan sesama kita.

4)      Langkah 4 Peneguhan
®    Pemandu memberikan dasar biblis yang diambil dari Injil Mateus 28: 9-20
®    Pemandu meminta salah satu peserta untuk membacakannya.
®    Setelah dibacakan, pemandu meminta peserta untuk meresapi injil yang baru saja dibacakan.
®    Pemandu mengulangi dengan membaca ulang injil tersebut supaya umat benar-benar paham dan mengerti apa yang hendak Tuhan sampaikan dalam injilNya.  

INJIL MATEUS 28:9-20

Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: "Salam bagimu." Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Maka kata Yesus kepada mereka: "Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku." Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala. Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa." Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini. Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

KESIMPULAN

ü  Pemandu memberi kesimpulan terhadap keseluruhan dalam katekese tersebut.
Dalam kehidupan kita, pada setiap waktu dan saat kita dipanggil oleh Allah. Dengan melalui Gereja yang mengutus kita. Tugas untuk mewartakan Allah merupakan hakekat dari diri kita yang telah menyatakan diri dalam sakramen permandian dan membina memberi diri untuk dibina oleh Tuhan dalam sakramen yang kita terima dengan mengikuti tata perayaan Ekaristi.
Perayaan Ekaristi merupakan perayaan iman, puncak dari perayaan Gereja. Allah menghendaki bahwa kita dalam segala hal, tidak boleh lepas dari diriNya, karena dalam Dialah kita akan mendapat hidup yang kekal. Ekaristi suci menandakan bahwa Allah benar-benar mencintai dan merawat kita supaya kita menjadi manusia yang selalu mensyukuri atas apa yang kita dapatkan. Pengutusan Allah terhadap diri kita, pada dasarnya setiap waktu, detik ada dalam kehidupan kita, cuma kita saja yang kurang terbuka atau membuka hati terhadap panggilan Allah.
Para orang Kudus boleh bersukacita terhadap tugas yang diembankan kepadanya dari Allah karena mereka membiarkan dirinya terhadap didikan firman Allah. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Kata-kata Yesus inilah yang harusnya dipegan atau menjadi dasar dalam kita menjalankan tugas kita sebagai orang beriman kepada Yesus Kristus. Gereja dengan tidak henti-hentinya menyerukan perkataan Yesus ini, supaya kita sebagai umat beriman menjadi alat atau sarana bagi Allah untuk mendatangkan keselamatan di zaman kita ini.
Bapak dan ibu yang terkasih, masihkah kita memiliki hati yang tulus dan terbuka terhadap firman dan panggilan Allah? Jika masih ada, mari kita wujudkan perkataan Allah ini dalam kehidupan kita dengan meneladani sikap nabi para nabi, rasul dan para missioner atau para kudus di Surga dalam mewartakan Allah tanpa takut, mengeluh dan selalu bersemangat serta bertekun di dalam iman kepada-Nya. Semoga katekese atau pendalaman iman kita pada malam hari ini memberikan kekuatan, motivasi atau inspirasi bagi kita dalam melaksanakan tugas kita sebagai orang beriman kepada Yesus Kristus. Amin
F.     Penutup
ü  Pertemuan ditutup dengan doa spontan.
ü  Pemandu meminta salah satu peserta dalam mendoakan doa penutup dan diakhiri secara bersama-sama dengan doa Bapa Kami.
DAFTAR PUSTAKA
Martasudjita, E. 2005. Ekaristi (Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral). Yogyakarta: Kanisius
Martasudjita, E. 1999. Pengantar Liturgi (Makna, Sejarah, dan Teologi Liturgi). Yogyakarta: Kanisius 
KOMKAT KWI. 1997. Model-Model Katekese Umat Dengan Metode Analisis Sosial. Yogyakarta: Kanisius
Ardijanto, M.A., Karnan, Bosco, Don, Drs. 2009. Liturgi Praktis (Liturgi 2). STKIP Widya Yuwana Madiun.
Hardawiryana, R. 2004. Konsili Vatikan II. Jakarta. OBOR
KWI . 2008. ALKITAB DEUTROKANONIKA. JAKARTA: LAI
http://yesaya.indocell.net/id743.htm